Senin, 31 Maret 2008

Sejarah Tentang Linux



Semuanya berawal di kota Helsinki, ibukota Finlandia. Kalau kita buka peta, kota ini terletak dekat kota St. Petersburg, Rusia. Iklim keduanya pun tidak jauh berbeda, sama-sama bercuaca ekstrem. Jika musim panas datang, matahari bersinar seolah tak kenal henti, sementara saat musim dingin, matahari hanya bersinar beberapa jam saja tiap harinya. Sisanya adalah udara dingin dan langit yang gelap.
Di tengah cuaca seperti inilah Linus Benedict Torvalds, perintis linux lahir 28 Desember 1969 sebagai putra Nils dan Mikke Torvalds. Nama Linus sendiri tergolong unik, karena jarang orang yang menggunakannya. St Linus dan Linus Yale (yang mendirikan Universitas Yale di AS) adalah salah satunya. Tapi agaknya nama pemenang nobel kimia dan perdamaian Linus Pauling, yang menginspirari orangtuanya.
“Saya pikir nama saya malah berasal dari karakter Linus di kartun peanut, “ candanya. Torvalds sendiri merupakan nama keluarganya dari kakeknya.
Untuk zamannya, kehidupannya pun tergolong unik. Di usia remaja ia sudah begitu menyenangi komputer. Saat kakeknya (dari ibu) yang ahli statistik di Universitas Helsinki membeli komputer Commodore Vic-20, ia sudah diajak untuk bantu-bantu. Kecepatan komputer itu hanya 1 Mhz, sepertigaribu kali kecepatan komputer saat ini.
Linus kecil pun berkutat dengan pemograman basic dan bahasa assembly yg merupakan bahasa tingkat rendah (low level code). Bukan karena semata-mata suka, tapi karena awalnya ia sendiri tidak mampu untuk meng-upgrade komputernya. Linus terpaksa mentweak ulang setiap kali performa komputernya drop. Kebiasaan inilah yang membuatnya pintar menyiasati performa komputer kelas rendah. Kepintarannya ini terbawa saat ia mendesain Linux kelak.
Setelah mendapatkan Sinclair QL, komputer bikinan Sir Clive Sinclair , ia belajar hal lain dari mesin itu, yaitu multitasking. Prinsip multitasking ini juga menginspirasinya dalam mengembangkan Linux di kemudian hari.
Hingga masuk jurusan komputer Universitas Helsinki, Linus belum mendapat komputer baru, saat itu usianya 19 tahun.
Setelah tahun pertama kuliah, linus ikut pelatihan kepemimpinan. Didalamnya ia belajar menangani kelompok sebagai unit kerja yang solid. Ini juga menjadi bekalnya menangani pengembangan software di komunitas linux kelak. Seolah semua jalan telah mengarahkannya ke sana.
Prince Of Linux
Usianya belum genap 21 tahun saat kembali kuliah tahun 1990 dan mulai menyenangi system operasi Unix yang terinstal di laboratorium kampusnya. Saat itu, Unix terkenal sebagai system operasi terstabil yang mejadi acuan industri komputer. Selama berbulan-bulan ia dan rekannya, Lars Wirzenius, mempelajarinya. Tapi karena Unix bukan system operasi murah, mereka cuma bisa mempelajarinya di kampus.
Untuk memahami UNIX, ia juga melirik Minix, klon unix yang berjalan di PC. Ia memesan buku Operating Sistem karya Andre Tannenbaum, yang menyertakan Minix sebagai bahan latihan penulisan system operasi. Sambil menanti pesanannya, Linux membeli PC dari uang hadiah natal. Saat itu 5 Januari 1991. “spesifikasinya 386 DX33, memorinya 4 MB dan hard disk 40 MB,” kenang Linus . “Saya terpaksa menjalankan DOS untuk beberapa bulan sebelum disket-disket minix tiba“ ujarnya.
Ini merupakan awal Linus memahami arsitektur komputer berprosesor Intel. “ Januari –Februari saya habiskan 70 (persen) untuk mempelajarinya (DOS) dan sisanya untuk bermain game Prince of Persia .
Akhir maret 1991, pesanannya tiba dan ia menginstal minix ke PCnya . Memang bukan tanpa kendala, tapi toh ia memang jenius. Ia belajar banyak melalui milis comp.os. minix.
Apalagi, source code minix memang terbuka, jadi ia bisa mengetahui kerja system operasi itu dan memperbaiki berbagai bug yang ada. Ia ingin membuat Minix miliknya sesuai dengan kebutuhannya. Bahkan, ia ingin membuat sitem operasi sendiri yang mirip dengan minix
Linux,Bugix, Freax
Proyeknya mulai saat liburan musim panas tiba, Mei hingga September 1991. “Awal liburan itu saya coding 10 jam sehari, 7 hari seminggu, “ ungkapnya.
Dua bulan kemudian, sejawatnya,Ari Lemmke, menawarkan tempat bagi proyek Linus tersebut di FTP server milik universitas.” Ia ( Lemmke) membuat folder /pub/os/linux (di server nic.funet.fi), “ kata Linus.
Nama Linux sebenarnya merupakan nama sementara, karena Linus tidak ingin disebut egomaniak . Di saat –saat sulit, Linus menyebut hasil kerjanya dengan sebutan ”Buggix”, karena memang masih dipenuhi bug. Pernah juga terlintas di kepalanya nama Freax , yang merupakan gabungan dari kata Freak, Free dan x. Tapi Lemmke menolak semua nama alternatif itu. Walau belum ada isinya , nama folder itu tidak pernah berubah, bahkan hingga Linus mengumumkan proyek kecilnya itu ke milis pengguna minix, Minggu, 25 agustus 1991. Orang mengingat hari itu sebagai hari bersejarah untuk Linux.
“ Hello semua pengguna minix. Saya sedang merintis system operasi (free) untuk klon 386 A. Cuma hobi kok, tak akan besar dan professional seperti GNU. Saya mengerjakannya sejak April, dan kini hampir siap. Saya ingin tahu (fitur) apa yang anda ingin/tidak inginkan dari minix, karena system operasi saya sedikit banyak memang mirip dengan minix….Saran anda pasti saya terima,tapi belum tentu saya implementasikan,lho.-),” tulisnya.
Para hacker dari seluruh dunia mulai meresponnya dan bersedia untuk menjajal hasil kerja Linus. September 1991, Linux 0.0.1 keluar sebagai versi beta dan linus menaruhnya di server universitas yang telah disiapkan tadi.
Linux kebanjiran respon dan perbaikan. Para hacker bergotong royong menghidupkan linux .Linus secara bertahap mernyotir semua itu dan menyatukannya menjadi rilis terbaru linux.
Toh, proyek itu belumlah bisa tersebut system operasi yang lengkap, karena yang linus bangun hanyalah kernel system operasi. Agar benar-benar berfungsi, orang memerlukan program-program lainnya. Linus menunjuk Software berbendera GNU sebagai aplikasi yang sering ia pakai dengan linux.
Ya, pada saat yang sama, Ricard Stallman dan Free Software Foundation – nya memang tangah menyusun system operasi lengkap yang mirip unix , namun free. Mereka namakan proyeknya sebagai GNU(GNU’S Not Unix).
Berbeda dengan Linus, sejak 1984 mereka mulai dengan menyusun berbagai aplikasi dan library – nya dulu. Sementara kernelnya sendiri, Hurd, belum selesai (bahkan hingga kini).
Hacker dan pemakai software GNU pun mengistal Linux dan menyatukannya dengan software GNU. Sistem operasi GNU/Linux pun lahir. Orang memang sering menyebutnya Linux saja, tapi peran Stallman dan proyek GNU-nya jelas tak terlupakan.
Linux berkembang di bawah bendera GPL(GNU GENERAL PUBLIC LICENSE) yang sering disebut copyleft. Linus membolehkan orang menyalin, menggunakan dan mendistribusikan linux secara bebas, bahkan gratis.
“ Melepas linux secara Cuma-Cuma adalah satu-satunya keputusan terbaik yang pernah saya buat ”, katanya dalam wawancara dengan Firstmonday, sebuah jurnal di internet.
Berbagai distribusi(distro) linux muncul dan berkembang menjadi perusahaan besar. Red Had dan Mandrake adalah salah satu yang mereguk keuntungan dari wabah linux. Penggunanya diperkirakan terus meningkat dan orang kini melihat linux sebagai saingan serius untuk windows.
Di tengah hiruk pikuk “perang” antar pendukung windows dan linux, Linus memilih tantangan lain dengan menikahi seorang jago karate finlandia, Tove Torvalds. Dua orang putrinya Patrisia Miranda dan Daniela lahir kemudian. Linus pun memboyong keluarganya ke Amerika Serikat, dan sampai kini ia bekerja di perusahaan prosesor transmeta.
Murah Bahkan Gratis
Sistem operasi yang dirintis Linus Torvalds ini mulai menanjak popularitasnya karena murah, mudah dan terbukti berkualitas tinggi. Banyak aplikasi yang biasa anda nikmati dan anda gunakan di windows sudah bisa dinikmati pula di linux.
Linux sendiri saat ini dikeluarkan oleh banyak distributor (distro). Masing-masing distro memiliki cirri khasnya sendiri. Banyaknya distro ini tak lain karena linux bersifat open source. Jenis software seperti ini umumnya bebas untuk digunakan, digandakan dan dimodifikasi. Dengan sifatnya itu linux dikembangkan dan diperbaiki terus oleh komunitas programmer dan hacker dari seluruh dunia. Kalau mau anda pun bisa ikutan mengembangkannya.
Linux pun relatif lebih tahan terhadap virus ketimbang Windows. Sampai saat ini jumlah virus yang menyerang linux terbilang sedikit.
Karena membangunnya gotong royong, harganya pun relatif murah. Bahkan hampir semuanya bisa anda dapatkan secara bebas dan gratis.
Jaringan di linux
Pada saat ini hampir 80% web server di dunia menggunakan linux sebagai system operasinya, dan juga untuk server-server lain yang tidak terhubung ke internet banyak yang mulai menggunakan linux. Keputusan beralih ke linux didasarkan pada kestabilannya linux jika digunakan sebagai server, selain dari tidak banyaknya virus yang menyerang linux. Pertimbangan lain adalah nilai investasinya lebih sedikit dan mudah dalam perawatannya.
Linux amat mudah dikoneksikan pada semua jaringan system operasi yang lain baik ke windows maupun unix. Dengan penggunaannya yang sudah semakin user friendly (menggunakan GUI) maka linux siap menjadi alternatif baru bagi pemakai PC untuk beralih ke system operasi yang murah dan tetap tidak terlibat dalam usaha pembajakan.
Pemrograman di Linux
Banyak perusahaan yang kemudian beralih ke sistem operasi ini karena faktor keandalan dalam keamanan data dan jaringan mereka, serta faktor ekonomi tentunya. Perubahan platform sistem operasi kemudian merubah cara pandang pengembang, dalam membangun sebuah sistem informasi yang mereka jual. Karena tidak bisa dipungkiri program yang berjalan pada platform tertentu tidak otomatis bisa berjalan pada platform yang lain. Yang bisa dilakukan adalah melakukan konversi kode dan meng-compile kode tersebut ke platform yang ditentukan. Hal yang terakhir diatas itulah yang susah bagi developer pada umumnya karena bahasa pemrograman yang bisa untuk itu adalah bahasa pemrograman yang di-support oleh linux pada awalnya yaitu C dan Assembly. Sedangkan sebagian besar developer program tadi meguasai bahasa pemrograman tingkat tinggi, seperti Clipper, Delphi, Basic, dan Foxpro.
Untunglah sifat Open Source linux membuat banyak programmer dan hacker di seluruh dunia menemukan solusi tersebut, dengan proyek membuat bahasa pemrograman baru atau compiler bahasa program yang banyak digunakan programmer di sistem operasi lain, namun berjalan di linux.
Bahasa pemrograman yang kemudian bisa berjalan di linux diantaranya adalah:
· ADA
· BASIC
· C
· C++
· Expect
· FORTRAN
· GTK
· PASCAL
· Python
· Skrip Shell
· TCL
· Perl (The Practical Extraction and Report Language)
· Kylix (pengganti Delphi)
· Gambas (pengganti Visual Basic

Tidak ada komentar: